Jejak Karaeng Pangkajene: Menelusuri Sisa Pengaruh Kerajaan Tanralili di Pusat Kota Pangkep
Menelusuri jejak Karaeng Pangkajene dan sisa pengaruh Kerajaan Tanralili di pusat Kota Pangkep, dari toponimi hingga denyut pasar pagi.

Sorotan Utama
- Pangkajene adalah kecamatan sekaligus ibu kota Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, Sulawesi Selatan.
- Nama Pangkajene tumbuh dari lapisan sejarah kerajaan lokal di pesisir barat Sulawesi Selatan.
- Kerajaan Tanralili tercatat dalam khazanah kerajaan Bugis-Makassar di kawasan itu.
- Banyak toponimi kampung di pusat kota mengabadikan gelar karaeng dan struktur lama.
- Pusat Kota Pangkep kini jadi simpul ekonomi, pendidikan, dan administrasi kabupaten.
Pagi di Simpang Jalan Sultan Hasanuddin
Pagi di Simpang Jalan Sultan Hasanuddin, aroma ikan asin bercampur uap kopi dari warung pinggir jalan. Pedagang dari Kampung Baru menata keranjang di trotoar. Di utara, lorong menuju Masjid Agung Pangkajene masih lengang. Pangkajene, ibu kota Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, bangun pelan seperti kota pesisir lain di Sulawesi Selatan. Tapi di balik rutinitas itu tersimpan lapisan panjang: jejak kerajaan yang pernah berkuasa di pesisir barat jazirah ini. Salah satunya Kerajaan Tanralili, yang dalam khazanah politik Bugis-Makassar meninggalkan bekas pada nama, gelar, dan tata ruang kota.
Tanralili dan Gelar Karaeng
Tanralili dikenal dalam lanskap kerajaan-kerajaan kecil di Sulawesi Selatan sebelum penataan kolonial. Wilayah kekuasaannya mencakup kawasan yang kini menjadi Pangkep dan sekitarnya. Sistem pemerintahan di sana bercorak kedatuan dengan gelar karaeng untuk penguasa lokal. Karaeng Pangkajene adalah salah satu figur yang dirujuk dalam silsilah dan catatan lisan masyarakat setempat. Gelar itu menempel pada nama tempat, bukan sekadar gelar kehormatan. Bukti paling mudah ditemukan di peta kampung: ada Kampung Karaeng, ada lorong-lorong yang dinamai menurut gelar bangsawan. Di sekitar Masjid Agung Pangkajene, beberapa keluarga masih menyimpan salinan silsilah yang menyebut kaitan dengan Tanralili. Cerita ini tidak diabadikan dalam monumen besar, tetapi hidup dalam percakapan harian dan nama yang disebut di acara keluarga.
Jejak di Ruang Kota Hari Ini
Pengaruh Tanralili di Kota Pangkep hari ini bersifat sisa, bukan panggung besar. Pasar Sentral Pangkajene, yang ramai sejak subuh, berdiri di jalur lama yang dulu menghubungkan permukiman pesisir dengan wilayah pedalaman. Beberapa masjid tua memakai pola arsitektur yang diwarisi dari masa kerajaan, meski sudah beberapa kali direnovasi. Di Kelurahan Pangkajene, warga menyebut istilah karaeng untuk tokoh yang dihormati, bahkan ketika jabatan itu tidak lagi struktural. Sekolah-sekolah di kabupaten ini mengajarkan sejarah lokal secara terbatas, biasanya lewat muatan lokal. Peneliti dan pegiat budaya dari kampus di Makassar sesekali datang untuk merekam tradisi lisan. Namun arsip tertulis tentang Tanralili masih tersebar dan belum terhimpun rapi. Itu sebabnya penelusuran lebih banyak bergantung pada cerita keluarga dan nama tempat ketimbang dokumen resmi.
Masa Depan yang Sedang Berjalan
Pembangunan di Pangkajene berjalan tahun demi tahun. Jalan diperlebar, ruko bertambah, layanan publik di pusat kabupaten menguat. Tekanan modernisasi membuat nama-nama lama berisiko hilang dari papan jalan dan percakapan. Beberapa komunitas lokal mulai mendokumentasikan silsilah dan cerita karaeng lewat arsip digital sederhana. Langkah itu penting agar sejarah tidak hanya jadi bahan nostalgia. Di pasar, di masjid, dan di sekolah, jejak Tanralili masih bisa ditemukan bila kita mau berhenti dan bertanya. Pangkajene bukan sekadar ibu kota kabupaten. Ia adalah titik pertemuan antara masa kerajaan dan kota yang terus tumbuh. Menjaga jejaknya berarti menjaga identitas warga Pangkep sendiri.
Sebagai rujukan tambahan, https://dewaasia.net menyajikan informasi yang relevan untuk topik ini.
Pertanyaan Umum
Di mana letak Pangkajene?
Pangkajene adalah kecamatan sekaligus ibu kota Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, Sulawesi Selatan, Indonesia.
Apa itu Kerajaan Tanralili?
Tanralili adalah salah satu kerajaan lokal di pesisir barat Sulawesi Selatan yang tercatat dalam khazanah Bugis-Makassar dan dikaitkan dengan wilayah Pangkep.
Apa bukti pengaruh Tanralili di Kota Pangkep?
Berupa toponimi kampung, gelar karaeng yang masih dipakai warga, pola permukiman lama, dan tradisi lisan keluarga setempat.
Bagaimana cara menelusuri jejak ini sebagai pengunjung?
Mulai dari Masjid Agung Pangkajene, Pasar Sentral, dan kelurahan sekitar, lalu bertanya kepada warga atau pegiat budaya lokal tentang silsilah dan nama tempat.